Aku Sarah. Seorang gadis yang dulunya seperti putri — sangat disayang, dimanja, dan disukai oleh orang-orang di sekitarku. Hidupku terasa sempurna, tanpa beban, tanpa air mata. Semua terasa mudah, seolah dunia ini milikku.
Sampai suatu masa datang. Masa di mana aku tidak punya apa-apa. Tidak tahu tujuan hidup. Tidak mengerti arah langkahku. Dan akhirnya, aku berakhir di sini.
Ini adalah titik balik kehidupanku. Di sinilah aku memulai semuanya. Dari nol. Dari ketiadaan. Dari luka yang tak terucap.
Ini adalah kisahku. Kembali ke fitrah.
Siang itu, matahari bersinar terik di atas langit sekolah. Aku berjalan terburu-buru melalui lorong yang ramai oleh suara siswa-siswi yang berlalu-lalang. Langkahku cepat, jantungku berdegup kencang. Proposal itu harus segera diserahkan.
Aku menghela napas. Perutku sakit. Sembelit. Gara-gara proposal ini, pikiranku tidak tenang.
Aku melambaikan tangan kepada Anggi dan bergegas menuju ruang Pak Sukri. Langkahku mantap, meski perutku masih terasa tidak nyaman.
Sesampainya di depan ruang guru, aku mengetuk pintu. Dari dalam terdengar suara berwibawa yang sudah sangat kukenal.
Sesosok pria paruh baya berdiri di hadapanku, sambil memegang penggaris panjangnya. Ya, dia adalah Pak Sukri. Guru sekaligus pembina keputrian. Dialah panutanku di sekolah ini. Aku sangat mengagumi sikap tegasnya dan cara dia mengajar, seperti melihat langsung sejarah di depan mata.
Aku tersenyum kecil. Ya, aku tahu kebiasaan Pak Sukri. Setiap ada murid datang, pasti dia menguji muridnya dengan pertanyaan. Jadi mereka gampang sekali mengingat pelajaran dengan sistem seperti ini. Terlihat seperti mendikte, tetapi menurutku ini adalah salah satu pesonanya Pak Sukri.
Aku tertunduk sebentar. Pikiranku melayang ke beberapa pekan lalu. Di saat aku merasa rendah, merasa terjebak, dan merasa terhina.
Keluarga yang kuanggap sebagai orang terdekatku, malah menghancurkan harapanku. Ya, mereka adalah sepupu-sepupuku dari pihak ayah. Di mana aku merasa cukup, bahkan sangat dekat dengan mereka. Tetapi mereka juga yang menjerumuskanku.
Ya, mereka rela mengorbankanku hanya untuk kesenangan. Mereka mempermalukan orang tuaku di depan keluarga besarnya. Ayahku mau tidak mau mengenakan pakaian lusuh di depan semua keluarga besar, sambil membersihkan lantai dengan tangannya.
Ayahku yang begitu aku hormati, diinjak-injak harga dirinya oleh keluarganya sendiri. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa melihat, menatap pilu punggung ayahku.
Apakah pantas seseorang yang dulu berkorban untuk keluarganya, dan saat dia tidak mempunyai apa-apa, dia dihina dan dijatuhkan serendah-rendahnya?
Aku tertegun. Beberapa detik mendengar suara Pak Sukri, aku tersadar dari lamunanku.
Aku tertawa, menutupi perasaanku. Berusaha terlihat kuat di depan Pak Sukri.
Aku berlalu dari ruang Pak Sukri dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Proposal itu sudah ditangannya. Tapi pikiranku masih melayang jauh, ke masa-masa kelam yang belum bisa aku ceritakan kepada siapapun.
Dalam perjalanan menuju kelas, aku bertemu dengan seorang gadis. Gadis cantik dengan paras yang lembut dan rambut kepangnya. Dia tersenyum ke arahku.
Dengan senyum yang merekah, aku melemparkan senyum hangat kepada Puji. Tentunya ditangkap hangat oleh Puji.
Ya, benar. Kami beda kelas. Puji di kelas 2 IPA dan aku di kelas 2 IPS. Walaupun kami berbeda tempat, tapi kami tidak pernah memandang rendah satu sama lain.
Ya, Puji adalah ketua OSIS yang sering bekerjasama denganku. Jika kami memiliki kegiatan yang berbarengan, kami selalu saling mendukung. Kami adalah teman pertama saat masuk di SMA ini.
Tahun-tahun berlalu. Aku dewasa. Dan pergaulanku sudah keluar dari jalurnya. Aku terbawa arus, tanpa sadar bahwa aku semakin jauh dari jalan yang benar.
Sampai suatu hari, aku bertemu seseorang yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Puji. Teman lamaku. Tapi penampilannya... sangat berbeda. Dia berpenampilan seperti laki-laki. Rambutnya pendek, pakaiannya maskulin, dan caranya berbicara berubah total.
Aku kaget. Benar-benar kaget. Apalagi mendengar dari teman-teman bahwa Puji sering keluar dengan penampilan seperti pria dan berperilaku seperti biasa.
Hati ini tidak tenang berhari-hari. Dengan apa yang aku rasakan, juga dengan apa yang aku alami sendiri. Pergaulanku yang sudah keluar dari jalurnya, membuat keadaan Puji yang sama sekali tidak bisa aku terima.
Dan ini adalah titik balikku.
Di saat itu juga, aku memutuskan untuk keluar dari kebiasaanku. Mulai merenung. Perlahan mulai menghilang dari teman-temanku. Menghilang dari lingkungan yang biasa.
Dan akhirnya, di suatu waktu, aku mulai dinampakkan secercah harapan-harapan baru. Aku mulai memperbaiki pakaianku. Mulai memasuki lingkungan yang baru. Berkenalan dengan orang-orang baru dengan tingkah laku yang baik, lembut, dan halus.
Ya, aku mulai ikut kajian. Memperbaiki pakaianku.
Sampai di suatu titik, aku merasa. Ternyata kekosongan yang aku rasakan selama ini adalah kalbuku. Hatiku yang kosong.
Dan di saat di posisi itu, aku bertemu kembali dengan Puji. Di saat itu, Puji seperti orang yang terlunta-lunta. Depresi berat. Wajah pucat. Garis hitam di bawah matanya. Terlihat tidak tidur berhari-hari.
Aku nggak tahu apa yang terjadi dengan Puji. Puji seperti orang yang tidak tahu tentang dirinya. Matanya nanar, menatap nanar. Cekungan mata dan garis hitam di bawah matanya benar-benar sangat terlihat. Pakaian rusuh dan tercium aroma yang menyengat.
Aku menangis duduk di depannya.
Puji hanya menatap tanpa mengeluarkan kata-kata pun. Hanya air mata yang menetes di matanya perlahan.
Seiring waktu, dengan kelembutan dan kesabaranku, aku membantu Puji. Merapikan pakaian. Memasuh muka, rambut. Membantu Puji untuk lebih tenang. Mengajak, menemani Puji sambil membaca, sambil mengaji. Menyiapkan makan dan segala sesuatu yang menurutku dapat membantu Puji untuk kembali.
Ya, sudah terlihat di wajah Puji. Mulai menghilangkan kerut-kerut. Menghilang warna kehitaman di bawah mata. Puji mulai terlihat lebih cerah. Puji mulai diobati, mulai dirapikan semuanya.
Dan pada suatu hari, saat kami kembali dari rumah sakit, saat kami sedang berjalan di lorong, tiba-tiba Puji menghentikan langkahnya. Dia memegang erat tanganku, sambil menatap nanar ke depan.
Ya, dia menatap sesosok pria yang dulu pernah merenggut segalanya dari Puji. Kehidupan, kasih sayang, dan ibunya. Tapi pria itu tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Pria itu hanya sesosok pria tua renta tanpa daya dan upaya. Dia dibopong oleh suster dan dibawa masuk kembali ke ruangannya.
Ya, dia adalah paman Puji. Paman yang menelantarkan Puji dan ibunya setelah dia mendapatkan harta orang tuanya.
Tetap dengan menggenggam tanganku, Puji terduduk lemas dan menangis.
Aku kaget sekaligus haru dengan apa yang baru saja aku dengar. Puji kembali ke dirinya. Sadar. Ya, itu pikirku. Tapi aku tidak pernah tahu bahwa rasa penyesalan, rasa terhina, dan tersiksanya Puji membuat sakitnya lebih terbentang lagi.
Walaupun dia sempat sadar, tapi akhirnya Puji tidak tertolong. Depresi berat yang dihadapi dan kekecewaan terhadap dirinya lebih besar dari apa yang bisa dia tanggung.
Dan dia mengalami sakit yang tidak bisa dia tahan. Ya, dia memiliki penyakit karena dosa yang dilakukan saat dia salah jalan. Ya, dia mengidap HIV. Virus HIV yang tidak bisa tertolong lagi.
Dan pada akhir hayatnya, dia minta maaf kepadaku dan memohon ampun kepada Allah atas apa yang sudah dia lakukan selama ini. Puji masih sempat belajar mengaji kembali, belajar salat di saat-saat terakhirnya.
Pagi itu, aku bersiap. Mengenakan pakaian terbaikku. Gamis hitam sederhana namun yang anggun. Untaian hijab yang menutupi dada dan sebatas lutut menambah keunggulanku. Dan balutan Khimar yang menutupi paras cantikku, dengan warna senada tapi anggun.
Membalut tubuh yang kini tidak lagi sendiri. Ya, ada calon bayi yang menemaniku.
Sambil menunggu sabar sampai waktunya tiba. Ya, aku bersiap untuk kajian. Walau persalinanku sudah dekat, tapi aku tidak mau sekalipun meninggalkan kebiasaan baikku ini.
Ya, di sini. Di masjid ini. Aku memantapkan hatiku untuk terus berjalan di jalan-Mu, ya Allah. Tuntunlah aku agar aku menjadi hamba yang taat pada-Mu dan Sunnah Nabi-Mu.
Aku mengangguk dengan senyum yang berkah.
Segala sesuatu hal yang kita lakukan tanpa berlandaskan Al-Quran dan Sunnah, Al-Quran dan Hadis, segalanya akan berubah seperti fana. Hanya Allah tempat kita kembali. Dan kepada Allah lah kita meminta dan berserah diri.